isu eksternalSalah satu yg ditekankan oleh standar ISO 9001:2015 & merupakan persyaratan baru standar sistem manajemen ini adalah wajibnya organisasi mereview isu Eksternal,baik yg positif & negatif. Hasil review tersebut jadi input bagi organisasi untuk menyesuaikan sistem manajemen mutu, sekurang2nya pada sasaran mutu atau asumsi risiko & peluang yg ada & yg tentunya berimplikasi pada rencana kerja yg perlu dilakukan oleh organisasi.

Apa yg disyaratkan ISO 9001 sebetulnya bukan hal baru dlm literatur manajemen maupun praktek para profesional. Sudah umum diketahui perusahaan sukses melakukan review meeting, untuk meninjau isu Eksternal & menyesuaikan business plan ataupun annual plan mereka.

Secara teoritis, terdapat konsep pendekatan kontijensi, tidak ada cara yg sama efektifnya untuk semua kondisi. Organisasi yg mampu menyesuaikan strategi & pola kerjanya dengan perubahan konteks akan memenangkan persaingan. Mereka yg gagal beradaptasi akan tersingkir dari arena persaingan. Pertanyaannya, dlm konteks isu Eksternal, organisasi seperti apa yg akhirnya gagal beradaptasi itu?

Pertama, mereka yg tdk peduli pada isu Eksternal. Ketidakpedulian tersebut membuat mereka tidak mereview isu Eksternal. Pada akhirnya, mereka terlibas perubahan konteks eksternal. Strategi & pola kerjanya tidak cocok menghadapi perubahan konteks eksternal.

Kedua, mereka yg peduli pada isu Eksternal tetapi gagal memahami isi eksternal dgn baik. Ini mungkin karena salah data atau salah analisis data. Mereka bisa jadi menyimpulkan tidak ada perubahan padahal konteks eksternal berubah, dampaknya strategi & pola kerja mereka menjadi usang. Atau boleh jadi mereka menyimpulkan perubahan tetapi keliru akibatnya strategi & pola kerjanya berubah tetapi tidak aplikable dengan perubahan.

Salah satu isu Eksternal yg wajib diperhatikannya oleh manajemen adalah daya beli konsumen. Rilis BPS menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga kita memang masih naik 4,95%. Akan tetapi, angka ini menunjukkan adanya penurunan jika dibanding kenaikan pada tahun sebelumnya. Padahal, ada lebaran. Sejak 2014, menurut ekonom Indef memang terjadi pelemahan daya beli. Apa artinya? artinya manajemen perlu berhati2 soal daya beli konsumen. Simak penjelasan ekonom di sini

http://ekonomi.kompas.com/read/2017/08/07/205225126/kelas-menengah-atas-pilih-tumpuk-duit-di-bank-ketimbang-belanja

http://m.tribunnews.com/bisnis/2017/08/09/ekonomi-naik-tipis-indef-menilai-konsumsi-rumah-tangga-rendah

http://m.akurat.co/id-55994-read-ketika-ekonomi-berjalan-ditempat

Sebagai manajemen organisasi tentu perlu optimis dlm setiap langkah. Tapi, keoptimisan tidak akan berarti apa2 jika tidak menyusun strategi & pola kerja yg tepat, sesuai dengan kondisi konteks eksternal yg ada. Pilihannya terserah kita.

Sikie Sumaedi
Peneliti LIPIA

Artikel ini telah dibaca sebanyak133kali!