OFJH6S0

 

 

 

 

 

 

 

 

Jika kita mencermati framework ISO berbasis High Level Structure, seperti ISO 9001, 14001, 45001, dan lainnya, maka kita akan melihat bahwa klausul 5 – Leadership (Kepemimpinan) berada ditengah siklus PDCA, dengan kata lain sebagai poros dari siklus tersebut. Sebagai poros dari suatu siklus, klausul 5 – Leadership adalah kunci utama penggerak suatu sistem. Jika poros tersebut berfungsi secara efektif, efisien dan konsisten, maka sistem yang ada akan berjalan dengan baik. Sebaliknya jika poros tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya, maka sistem akan bermasalah.

Sebagai konsultan ISO, kami sering mendapatkan pertanyaan terkait implementasi dari klausul 5 tersebut. Penjelasan dari klausul 5 adalah terkait dengan komitmen manajemen, kebijakan, dan tugas tanggung jawab serta wewenang. Implementasi ketiga sub klausul tersebut (komitmen, kebijakan, tugas tanggung jawab wewenang) sangat erat kaitannya dengan gaya kepemimpinan yang ada di suatu perusahaan.

Pada artikel ini, kami sebagai konsultan ISO akan menjelaskan beberapa gaya kepemimpinan yang berbahaya bagi perusahaan sebagai bagian dari artikel “Seri Kepemimpinan – Klausul 5 Standar ISO” sebagai panduan agar terhindar dari risiko kegagalan penerapan klausul 5 dalam perusahaan.

Tidak hanya performa para karyawan, gaya kepemimpinan atasan juga bisa berdampak langsung terhadap kemajuan perusahaan. Apabila Anda merupakan salah seorang atasan, ada baiknya menghindari sifat-sifat, kebiasaan, maupun gaya kepemimpinan yang berbahaya bagi perusahaan.

Tak dipungkiri banyak perusahaan-perusahaan dalam negeri maupun perusaan asing yang berhasil sukses karena kepemimpinan tepat. Salah satu contoh adalah Steve Jobs, selama memangku jabatan sebagai bosnya Apple, ia terkenal sebagai pemimpin keras yang bahkan kerap kali tidak mau menerima masukan yang diberikan oleh siapapun. Beruntung kreativitas yang dimilikinya sebanding dengan sikap keras dalam kepemimpinannya.

Meskipun gaya kepemimpinannya terkenal agak buruk, tetapi nyatanya Jobs mampu menjadikan Apple sebagai salah satu perusahaan bergengsi di dunia. Berbeda dengan Jobs, sang bos Microsoft yakni Bill Gates justru menjadi seorang pemimpin yang lebih terbuka terhadap berbagai masukan saran. Bill Gates lebih bersikap terbuka terhadap ide-ide baru dari anak buahnya. Oleh karenanya, Microsoft kini berhasil menjadi perusahaan raksasa dengan barmacam produk unggulannya.

Itulah contoh dua kepemimpinan yang terbilang bertolak belakang, tetapi dua perusahaan tersebut dapat meraih kesuksesan. Dalam artikel ini, kita tidak akan membahas sifat pemimpin ideal, tetapi akan mengulas singkat mengenai gaya kepemimpinan yang berbahaya sebab hal itu dapat berpotensi mengacaukan hubungan antara anak buah dan atasannya, bahkan dapat merusak misi dan visi bisnis.

Gaya Kepemimpinan yang Berbahaya : Sering mengomel pada bawahan di hadapan umum

Saran dan kritik sebenarnya hal baik. Saran dan kritikan dapat menjadikan perseorangan, kelompok maupun perusahaan memperbaiki diri dan semakin berkembang. Akan tetapi, sebagai atasan, sebaiknya Anda jangan sampai mempermalukan bawahan di hadapan umum maupun di hadapan rekan kerjanya. Meskipun tujuan Anda baik yakni memberikan saran atau kritik agar bawahan tersebut menjadi lebih baik, dan tidak bermaksud mempemalukannya.

Apabila memberikan saran atau kritik di sembarang tempat adalah hal yang biasa dan bukan masalah, maka Anda salah besar. Gaya kepemimpinan yang demikian dapat mengganggu mental dan rasa percaya diri bawahan. Hal tersebut justru dapat pula mengganggu kinerja bawahan. Omelan Anda yang mempermalukannya akan membuatnya merasa kesal dan tidak fokus mengerjakan tanggung jawabnya.

Jangan anggap remehkan kebiasaan mengomel pada bawahan di depan umum seperti itu, sebab hal ini juga berpotensi merusak hubungan kerja di antara atasan dengan para bawahan. Semakin lama kebiasaan tersebut dipelihara, akan membuat para bawahan kehilangan respek kepada Anda. Bahkan dengan gaya kepemimpinan yang berbahaya tersebut, tak jarang kita temukan bawahan yang jadi gemar membuat ulah dan sulit diajak bekerja sama karena ia telang kehilangan rasa hormat terhadap atasannya. Jika koordinasi di antara bawahan dan atasan menjadi sulit hingga visi misi bisnis tidak tercapai.

Langkah terbaiknya untuk menyampaikan kritikan, sebaiknya lakukan secara privasi dengan memanggil karyawan tersebut dan berbincang di ruang atasan. Tanyakan pula tentang kendala apa yang membuat performa kerjanya kurang maksimal. Kemudian berikan saran yang baik dan masuk akal. Apabila ingin mengkritik hasil kerjanya, sebaiknya kritik yang membangun.

Gaya Kepemimpinan yang Berbahaya : Menyembunyikan informasi dari tim

Sebagian atasan menganggap karyawan atau anak buahnya hanya bertugas menyelesaikan tugas-tugas semata. Oleh sebab itu, sebagian atasan tersebut selalu menutupi atau menyembunyikan informasi seputar kondisi perusahaan pada bawahannya maupun menutupi perhitungan keuangan terkait gaji. Anggapan tersebut ternyata tak sepenuhnya tepat, karena para bawahan sebenarnya memiliki rasa ingin tahu mengenai kondisi perusahaan maupun infomasi lainnya seputar gaji mereka.

Transparansi mengenai hitung-hitungan terkait gaji, uang lembur dan lain-lain perlu diketahui oleh bawahan agar mereka tidak mencurigai atasannya berbuat curang. Begitu pula dengan informasi mengenai kondisi perusahaan bila menghadapi masalah menyangkut visi misi perusahaan. Dengan mengetahui bagaimana kondisi perusahaan yang bermasalah, atasan dapat membakar semangat bawahannya agar mereka bekerja lebih semangat dan lebih baik. Karena baiknya kondisi perusahaan akan berdampak pula pada kesejahteraan seluruh karyawan.

Gaya Kepemimpinan yang Berbahaya : Mengkritik tanpa solusi

Kritikan dapat menjadi jalan perbaikan atas hasil kerja seseorang yang kurang baik. Akan tetapi bila sekedar kritik saja atau cenderung sekedar omelan, ada kemungkinan tidak akan berarti apapun. Sebagian atasan senang mengomel pada bawahannya ketika pekerjaan mereka tidak beres. Setelah mengomel, dia meminta bawahannya melakukan perbaikan tetapi tidak memberi solusi tentang bagaimana cara agar pekerjaan itu jadi lebih baik.

Tipe kepemimpinan seperti itu bisa menjadi gaya kepemimpinan yang berbahaya sebab bawahan akan membenci atasannya. Kalau pun memang pada dasarnya bawahan tidak perlu diberikan solusi karena sebenarnya ia sudah tahu, hanya saja ia memang melakukan pekerjaaan dengan buruk, maka coba mengajak bawahan Anda untuk berdiskusi mencari akar permasalahannya. Dengan demikian, wibawa sebagai atasan akan terjaga dan bawahan lebih menghormati Anda.

Gaya Kepemimpinan yang Berbahaya : Narsis atau sering mengklaim keberhasilan individu

Tak sedikit atasan yang memiliki kelakuan seperti itu. Saat sebuah proyek berhasil diselesaikan, memperoleh apresiasi baik, dan membanggakan perusahaan, sebagian atasan yang narsis akan mengganggap bahwa semua itu adalah hasil kerja kerasnya dan hasil kepintarannya. Atasan tersebut membesar-besarkan diri sendiri pada kolega lainnya tanpa menghargai kerja keras bawahannya.

Namun tahukah Anda bahwa keberhasilan proyek perusahaan merupakan hasil kerja tim, hasil menguras keringat bawahan, tak hanya hasil kecerdasan atasan. Sikap narsis bisa menjadi salah satu gaya kepemimpinan yang berbahaya sebab menjadikan hubungan antara bawahan dan atasan menjadi renggang. Dikhawatirkan bila sikap seperti itu berlangsung terus menerus, maka bawahan akan menjadi malas melakukan tanggung jawabnya, malas berinovasi, dan enggan mencurahkan kreativitas karena merasa tak dihargai.

Gaya Kepemimpinan yang Berbahaya : Cuek, tidak tahu menahu hasil kerjakan bawahan

Sudah pasti ini merupakan gaya kepemimpinan yang berbahaya bagi kemajuan perusahaan. Cuek pada cibiran kompetitor termasuk hal yang bijak karena memang hal tersebut tidak penting untuk dipikirkan. Namun sikap cuek terhadap apa yang dikerjakan bawahan akan membuat bawahan bebas melakukan apapun.

Tak jarang bawahan melakukan kegiatan yang tidak poduktif karena merasa bebas. Alhasil atasan tidak tahu seberapa bagus progres yang sudah mereka lakukan. Ketidak produktifan bawahan dapat merugikan perusahaan. Target pencapaian perusahaan tidak akan tercapai jika bawahan tidak produktif dan perusahaan akan menanggung rugi.

Terlebih bila tanpa pengawasan, kemudian bawahan melakukan kesalahan. Hal tersebut bisa membuang waktu lebih lama karena harus selalu melakukan perbaikan. Jika kesalahan bawahan langsung berhubungan dengan calon klien, maka hal itu akan menjadikan buruk citra perusahaan.

 

Salam Semangat,

Alief Maulana Ilyas